Cerita Sex Perawan Gadis Singapura

Cerita Sex Perawan Gadis Singapura - Aku akan menceritakan cerita sex dengan kisahku sewaktu hari liburan besar di Singapore. Hari liburan Deephavali adalah hari besar yang dinantikan oleh seluruh orang India di Singapure sehingga pemerintah Singapure mencanangkan sebagai hari libur nasional. Aku bete sekali hanya berdiam di rumah, sehingga akhirnya aku menyibukkan diri pergi jalan-jalan dengan menggunakan MRT dari arah Boon Lay ke Pasir Ris dan aku sempat berputar beberapa kali dengan rute yang sama. Mungkin kalian akan berpikir bahwa aku ini gila karena aku cuma menghabiskan waktu dan coin hanya untuk pergi dari Boon Lay menuju Pasir Ris tanpa tujuan apapun. Tapi karena keisenganku ini, akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang sungguh tidak bisa dipercaya.

Cerita Sex Perawan

Aku duduk di bagian sisi terakhir di MRT sehingga aku duduk bersebelahan dengan seorang gadis cantik yang sangat seksi. Dia memiliki rambut hitam yang bercampur dengan warna pirang yang panjangnya sebahu dengan mengenakan sebuah rok mini yang sangat seksi. Aku sungguh kaget karena ketika aku tidak sengaja menatap tubuhnya, ternyata dia tidak memakai BH dan aku juga berpikir jika dia tidak memakai BH, siapa tahu dia juga tidak memakai celana dalam.

Akhirnya, ketika suasana di MRT semakin ramai dan sesak, penuh dengan orang-orang yang menghadap ke arah yang berlawanan denganku, aku memberanikan diri mengelus-elus pahanya dan langsung ke pangkal selangkangannya. Aku semakin kaget sekali karena aku dapat merasakan bulu-bulu halus dan aku yakin bahwa tebakanku benar bahwa dia tidak memakai celana dalam.

Aku semakin nekad menggerayangi bagian kelaminnya yang lembab karena dia hanya diam saja. Aku tidak tahu apakah dia diam saja karena takut dengan keadaan sekitar atau dia mulai enjoy dengan jari-jari tanganku. Aku dapat melihat dia menutup matanya sambil menggigit bibir bagian bawahnya dan sepertinya menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam mulutnya. Aku semakin mempercepat gerakan jari-jariku di dalam goa kenikmatannya dan semakin cepat gerakan jariku menggosok klitorisnya dan liang surganya yang sudah mulai banjir, semakin keras dia menggigit bibir bagian bawahnya sehingga aku dapat melihat bahwa bibirnya mulai terluka. Aku tidak peduli dan terus melakukan aktifitasku.

Akhirnya aku merasakan bahwa jari-jariku dijepit oleh selangkangannya dan dia sepertinya menahan sesuatu yang nikmat yang belum pernah dia rasakan. Sambil dia menjepit jari-jariku yang masih bergerilya di dalam rok mininya, aku memperhatikan dia mulai mengeluarkan air matanya dan kemudian dia membuka matanya dan tersenyum kepadaku.

Tidak perduli dengan orang-orang sekitar, dia sekarang mulai mencium bibirku sehingga batang kejantananku sekarang mulai mendesak celana dalamku dan minta dilepaskan dari dalam celanaku. Aku memainkan lidahku di dalam bibir cewek yang duduk di sebelahku ini. Akhirnya tidak berapa lama kemudian, MRT yang sedang kugunakan berhenti karena sudah sampai di stasiun berikutnya. Cewek itu mengajakku turun dari MRT dan aku hanya menuruti kemauannya.

Akhirnya kami keluar dari dalam MRT dan dia mengajakku ke sebuah WC wanita terdekat, aku sempat menolak ajakannya karena aku takut kalau ada orang yang melihatku masuk ke dalam WC wanita yang berada di area MRT. Aku lupa nama stasiun MRT tersebut karena aku tidak memperhatikan nama stasiun tersebut. Setelah aku melihat ke kanan dan ke kiri dan hanya aku berdua dengannya, aku akhirnya menuruti kehendaknya untuk masuk ke dalam WC wanita tersebut.

Di dalam WC tersebut, dia mengajakku masuk ke sebuah ruangan toilet yang cukup kecil. Aku baru saja masuk dan dia buru-buru mengunci pintu toilet tersebut dan langsung sepertinya dia akan memperkosaku. Dia menelanjangi tubuhku dan dilanjutkan dengan menelanjangi tubuhnya sendiri. Aku sempat terpana melihat bentuk siluet tubuhnya yang sangat indah. Dia mendorongku sehingga aku berbaring tiduran di lantai toilet yang sangat kecil itu sehingga kakiku mesti bertumpu di atas kursi toilet yang biasa digunakan cewek untuk buang air besar atau kencing tersebut.

Gadis ini kemudian menduduki bagian selangkanganku dan kemudian mulai memasukkan batang kejantananku yang sudah menegang sejak tadi ke dalam liang kenikmatannya. Di saat batang kemaluanku memasuki liang senggamanya, aku merasakan suatu sensasi yang sangat kusukai. Aku kemudian membuka mataku dan aku ingin melihat apa yang sedang dia lakukan. Ternyata, sambil menaik turunkan tubuhnya, dia juga mengemut-emut jari-jari tangan kirinya, sementara tangan kanannya mulai menggerayangi buah dadanya yang semakin lama semakin keras. Dia terus melanjutkan aksi naik kudanya dan aku sendiri semakin merasakan kenikmatannya. Aku merasa dia sudah klimaks untuk 3-4 kali tapi dia tetap meneruskan aksinya tanpa ada perasaan lelah. Aku juga menyukainya karena aku sendiri belum sampai pada titik kenikmatan yang sangat kudambakan.

Aku sudah tidak sabar dan sekarang aku ingin gantian yang memperkosa dia. Kurebahkan dia hingga sekarang posisi kami sekarang berubah. Aku sekarang berada di atas tubuhnya dan aku terus menancapkan batang kemaluanku ke dalam liang surganya sehingga dia menggigit bibirnya yang ranum disaat batang kejantananku memasuki liang kenikmatannya. Aku mengocok batang kemaluanku dengan nikmatnya dan dengan ritme yang cukup cepat dan teratur. Dia menjadi mendesah dan memegang erat tubuhku sambil menjambak rambutku sehingga aku merasa kesakitan di kepala dan kenikmatan di batang kemaluanku.

Akhirnya setelah beberapa menit aku mengerjai liang kenikmatannya dengan batang kemaluanku, ingin rasanya aku menyelesaikan permainan ini karena aku merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam diriku. "Aarghhh..." aku tidak tahan lagi dan aku menyemprotkan cairan dari dalam batang kemaluanku sehingga aku sempat bergetar hebat sewaktu klimaks barusan. Disaat yang tidak jauh dari klimaks yang kualami, dia memegang erat diriku dan kemudian bergetar hebat sambil mencium diriku. Aku juga merasakan bahwa dia sendiri baru saja merasakan sensasi puncak kenikmatan yang dia dambakan.

Aku kemudian roboh kelelahan di atas tubuhnya dan tak lama kemudian, dia menyuruhku bangkit dan memakai busanaku kembali. Setelah aku rapi, dia keluar dan memintaku untuk menunggu di dalam toilet. Setelah dia merasa bahwa situasi aman di sekitar luar WC wanita, dia menyuruhku untuk bergegas keluar. Sewaktu kami berada di luar WC, dia tidak menyapaku dan seakan-akan kami tidak mengenal satu sama lain. Dia mengambil arah keluar dari stasiun tersebut sementara aku sendiri masuk kembali ke ruangan tiket untuk membayar tiket untuk pulang ke apartement. "What an unforgettable experience!" pikirku.


TAMAT

28-01-2013 28-01-2013
Category Article